Social Intelligence (kecerdasan sosial)

Socialize

Kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan yang perlu diasah. Untuk mengembangkan kecerdasan tersebut, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah bersosialisasi. Sosialisasi sendiri, menurut Charlote Buehler yaitu suatu proses yang membantu individu untuk mempelajari dan menyesuaikan diri tentang bagaimana cara hidup dan cara berpikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.

Pada zaman modern seperti sekarang ini, kebanyakan orang cenderung bersikap pasif dalam hal bersosialisasi. Pada musim liburan misalnya, orang-orang lebih memilih berlibur ke tempat-tempat wisata daripada mengunjungi kerabatnya. Mereka beranggapan bahwa akan lebih menyenangkan merilekskan tubuh dan menikmati berbagai fasilitas mewah di tempat wisata dibandingkan dengan mendengarkan cerita-cerita kuno atau sekedar keluhan-keluhan penyakit dari neneknya sendiri.

Dalam berkomunikasi, umumnya orang lebih memilih menggunakan media sosial dengan bertatap muka secara langsung. Alasan kepraktisan sering menjadi faktor utama kondisi ini. Selain itu, pilihan media sosial yang beragam semakin mendukung tren media sosial di kalangan masyarakat.

Keengganan untuk bersosialisasi langsung dengan orang lain hanya akan membuat kita merasa kaku ketika dihadapkan pada suatu kondisi yang mengharuskan kita untuk berinteraksi ataupun bekerjasama dengan orang lain. Oleh karena itu bergaullah. Dengan bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain, kita diajak untuk lebih memahami situasi dan peka terhadap apa yang dirasakan orang lain. Ketika kita berinteraksi, kita akan dihadapkan dengan berbagai macam kepribadian orang yang unik. Memahami dan mengetahui bagaimana cara orang berpikir dan memandang sesuatu, secara langsung dapat mengembangkan kecerdasan sosial kita.

Bergaul dengan orang lain juga dapat membantu kita keluar dari rasa kesepian dan mencegah perasaan terpuruk berlarut-larut. Misalnya ketika kita sedang merasa sedih, menceritakan apa yang kita rasakan kepada orang lain dan mengobrol dengan orang lain akan membuat kita merasa lebih baik. Emosi yang kita rasakan perlu diekspresikan layaknya sebuah bak mandi penuh air yang perlu dikuras agar tetap bersih. Bergaul dan berbicara dengan orang lain diibaratkan mrmbuka kran air pada bak tersebut.

Sekelompok peneliti di Alamaeda County, California, melakukan riset dan mengumpulkan data lebih dari 7000 orang dalam kurun waktu 9 tahun. Di akhir penelitian, mereka menemukan bahwa orang yang hidup relatif sehat dan berumur panjang umumnya mempunyai karakteristik banyaknya dukungan sosial yang dimiliki dan dinikmati seseorang melalui hubungan dengan orang lain.

Orang yang memiliki hubungan sosial yang baik merupakan suatu tanda akan kesehatan mentalnya yang baik. Meredith Minkler, dalam tulisannya β€œThe Social Component of Health” di American Journal of Health Promotion (1986), melaporkan bahwa orang yang memiliki banyak kontak sosial – pasangan hidup, keluarga dekat, jaringan teman, komunitas keagamaan dan hubungan sosial lainnnya – terbukti memiliki usia hidup lebih lama dan bahagia. Sedangkan orang yang terisolasi dan kurang berinteraksi dengan orang lain cenderung memiliki tingkat kesehatan yang buruk.

Jadi mengurung diri dan enggan bersosialisasi bukanlah pilihan yang baik. Bergaullah dan kembangkan kemampuan sosialmu πŸ™‚

Referensi

Abrecht, Karl. 2006. Social Intelligence : The New Science of Success. San Fransisco : Jossey-Bass
Bramastyo, Wahyu. 2009. Depresi? No Way. Yogyakarta : Penerbit ANDI
Murdiyatmoko, Janu. Sosiologi : Memahami dan Mengkaji Masyarakat untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Bandung : Grafindo Media Pratama. Tersedia di http://books.google.co.id (diakses pada 9 Desember 2014)

Social Intelligence (kecerdasan sosial)


Are you really smart ??

Beberapa tahun lalu, sebuah fenomena unik menarik perhatian saya. Teman-teman saya baru saja mendapatkan hasil tes IQ yang dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Setelah pembagian hasil tes, topik mengenai IQ seakan menjadi perbincangan utama layaknya selebriti papan atas. Berbagai opini dan mitos-mitos terkait IQ mulai menjadi sorotan utama.

β€œ Eh, hebat banget lho si Prina (bukan nama asli), IQ nya tinggi banget. Otaknya super banget, pasti sukses tuh. Dia bakal jadi apa ya ntar kalo udah kerja?”
β€œ Katanya ya, orang yang IQnya di bawah 75 itu termasuk idiot.”
β€œ Aku sih ga peduli IQ aku mau berapa, toh itu baru kata manusia. Cuma Tuhan yang tahu kemampuan otak kita sebenarnya.”
β€œ Aku galau. IQ aku rendah. Aku ga berani liatin hasil ini ke orang tua.”
β€œ Aku ga percaya banget IQ aku tinggi, orang aku ngisinya ngasal, Cuma ngebatik doang.”
β€œ Tau ga? Dia IQ nya kecil banget lho. Aku ga ngerti dia sebodoh apa sih?”

Berdasarkan opini-opini yang saya dengar dari teman-teman saya tadi, rasanya IQ seakan memiliki kesaktian. Hanya dengan 2-3 digit angka, kemampuan seseorang bisa diketahui. Tetapi apakah IQ benar-benar sehebat itu? Apakah dengan IQ yang tinggi seseorang bisa dipastikan sukses?

Other kind of smart, not only IQ

Sebuah teori dari Proffessor Howard Gardner menjelaskan tentang Multiple Intelligence atau lebih dikenal β€œMI”, dimana dalam teorinya tersebut Professor Gardner menyebutkan bahwa tingkat intelegensi seseorang tidak terpaku pada IQ saja. Terdapat banyak aspek lain yang juga menunjukkan kecerdasan seseorang.

Professor Gardener mengambil contoh seorang pelaut di South Seas yang dapat menemukan jalan hanya dengan melihat konfigurasi bintang dan langit, dan dengan merasakan arus air. Atau seseorang yang mempelajari budaya Islam dan menjadi pemimpin agama. Ia harus menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan huruf dan bahasa yang mungkin asing baginya. Atau juga seorang komposer yang menyusun karya musik dengan menggunakan program komputernya. Bukankah mereka juga termasuk orang-orang yang cerdas?

Dalam teori Multiple Intelligence ini, setidaknya terdapat enam kecerdasan yang disebutkan yaitu :
1. Linguistic intelligence, kecerdasan yang berkaitan dengan bahasa. Contohnya kecerdasan yang dimiliki oleh penyair.
2. Logical mathematical intelligence, kecerdasan yang berkaitan dengan logika.
3. Musical intelligence, kecerdasan dalam musik.
4. Spatial intelligence, kemampuan untuk merepresentasikan dunia. Kecerdasan ini di antaranya dimiliki oleh para arsitek, pelukis, pemahat, dan pelaut.
5. Bodily kinesthetic intelligence, kemampuan untuk menggunakan seluruh atau sebagian tubuhnya. Misalnya pada atlet, penari, dan koreografer.
6. Interpersonal intelligence, kemampuan untuk memahami orang lain, mengerti bagaimana memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja dan bagaimana bekerjasama dengan mereka. Interpersonal intelligence inilah yang kemudian berkembang menjadi social intelligence.

SI is So Important

Karl Abrecht, dalam bukunya Social Intelligence : The New Science of Succes, menyebutkan bahwa Social Intelligence atau SI merupakan kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang lain dan membuat mereka mau bekerjasama dengan kita. Orang yang memiliki Social Intelligence yang tinggi akan mampu berkomunikasi dengan baik, dapat memotivasi orang lain, dan membawa pengaruh baik terhadap orang lain. Sebaliknya seseorang dengan Social Intelligence yang rendah akan sulit berkomunikasi dan membawa pengaruh buruk terhadap orang lain.

Social Intelligence memiliki kaitan erat dengan kecerdasan lainnya, sehingga ketika Social Intelligence seseorang kurang maka kecerdasan lainnya pun tidak akan maksimal. Misalnya saja ketika seseorang mahasiswa A memiliki kemampuan dalam bidang seni musik, tetapi mahasiswa A tersebut memiliki kemampuan bersosialisasi yang buruk. Mahasiswa A jarang mengobrol ataupun sekedar menyapa orang-orang di sekitarnya (teman, dosen, dll). Ia lebih senang menyendiri dan menyibukkan diri dengan hal lain ketika berada di antara banyak orang. Ia juga tidak mengikuti UKM ataupun organisasi lain. Sehingga kemampuannya itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu dan tidak berkembang menjadi lebih besar. Padahal jika mahasiswa A tersebut lebih aktif dalam lingkungan sosialnya, tentu kemampuannya itu akan banyak diketahui orang dan bahkan akan membuka peluang baginya untuk dapat mengeksplor kemampuan tersebut.

Seperti halnya tongkat sihir Harry Potter yang dapat melakukan apapun, Social Intelligence juga dapat menjembatani kemampuan dan kelebihan kita dengan kesuksesan dan keberhasilan yang kita inginkan.

Referensi
Abrecht, Karl. 2006. Social Intelligence : The New Science of Success. San Fransisco : Jossey-Bass
Gardner, Howard. 2011. Frames of Mind : The Theory of Multiple Intelligence. New York : Basic Book. Tersedia di http://books.google.co.id diakses pada 8 Desember 2014
Gardner, Howard. 1987. The Theory of Multiple Intelligences. Annals of Dyslexia,37(1), 19-35.